Bu Menteri, Aktifis Perempuan Inspiratif

Oleh Ali Anwar Mhd

"Bu Ida'. Semua orang memanggilnya. Nama komplitnya Ida Fauziyah. Lebih komplit lagi, Dr. Hj. Ida Fauziyah, M.Si.Nama komplit dengan gelarnya tersebut setelah menjalani prosesi ujian terbuka promosi Doktor di IPDN (17/07) bersamaan dengan hari ulang tahunnya.

Bu Ida adalah perempuan inspiratif. Sosok santriwati yang telah sukses menapaki karir di dunia perpolitikan Indonesia. Tentu di samping sukses menggapai pendidikan (akademik) tertinggi.

Karirnya diperpolitikan dimulai menjadi anggota legislatif selama 4 periode berturut-turut (1999-1919) melalui PKB. Saat ini menduduki jabatan di eksekutif menjadi Menteri Tenaga Kerja RI (Manaker RI) di kabinet Jokowi-KMA.

Sebelum meniti karir di bidang politik, Bu Ida adalah seorang pendidik dan aktifis perempuan ormas keagamaan (Nahdliyiin).

Sebelumnya, saat masih remaja sudah menjadi aktifis sambil kuliah. Aktif di organisasi pelajar dan mahasiswa (IPPNU dan PMII).

Sebelum lagi, setamat dari SMP di Mojokerto, masa remaja mudinya dihabiskan belajar di pesantren. Nyantri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

Bu Ida adalah sosok perempuan yang berbeda dengan perempuan pada umumnya. Terutama perempuan yang pernah dibesarkan di lingkungan pesantren. Mayoritas tidak banyak yang memiliki karir jabatan politik tinggi dan penyelesaian pendidikan tertinggi. Apalagi dilakukan secara bersamaan antara karier politik dan penyelesaian akademik tertinggi. Tapi Bu Ida mampu dan bisa sukses menjalani keduanya.

Bu Ida sosok yang telah mampu menjawab atas latar kondisi perempuan Indonesia di bidang politik. Sebagaimana yang dibahas di temuan Desetasinya yang berjudul, "Implementasi Pengarusutamaan Gender dalam Tugas dan Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia".

Salah satu temuan penyebab belum terlaksana dengan baik pengarusutamaan gender dalam tupoksi DPRI adalah rendahnya pendidikan. Apa yang dijalani Bu Ida sebagai peneliti sekaligus telah menjawab dan menjadi pelaku dengan capaian (akademik tinggi) atas kondisi yang ada. Sekaligus menjadi pelaku atau perjuang dalam keterlibatan  mengangkat eksistensi gender di Senayan.

Saya melihat Bu Ida (selama 20 tahun menjadi wakil rakyat dari dapil Nganjuk, Madiun, Jombang, Mojokerto), adalah tipe sosok perempuan yang ramah, santun, cerdas, pekerja keras, pejuang, peduli, solutif, dan inspiratif bagi semua orang.

Hal ini ditunjukkan, dan saya sering menyaksikan secara langsung, bagaimana Bu Ida saat turba sebagai pemimpinan organisasi atau serap aspirasi sebagai anggota DPR RI. Kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, mengolah aspirasi menjadi program yang dapat direalisasi dari program yang menjadi kebutuhan masyarakat. Terutama terkait kebutuhan pemberdayaan dan pengembangan kaum perempuan.

Tidak jarang memberikan wacana dan motivasi pengembangan diri terhadap para aktifis perempuan Nahdliyiin di Nganjuk. Bahkan memberdayakan dengan cara mengadakan pelatihan-pelatihan serta membantu peralatan atau media yang bisa mendukung pengembangan diri para perempuan secara luas.

Di Nganjuk nama Bu Ida sangat familier. Baik di kalangan para Kiai pesantren, para aktifis organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (terutama aktifis perempuan), juga berbagai komunitas lainnya.  

Selama berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung selama 20 tahun, yang harus saya catat tebal, bahwa Bu Ida adalah sosok perempuan inspiratif bagi semua kalangan, terutama para kaum perempuan. Dan Bu Ida memang harus dijadikan salah satu sosok perempuan refrensi bagi kaum perempuan muda dalam meniti karir politik dan akademik.

Selamat Bu Ida. Semoga semakin sukses, selalu sehat, panjang umur, dan terus mampu berkontribusi dan memotivasi, serta terus memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak perempuan Indonesia.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. 👍👍👍 inspiratif sekali..semoga semangat bu ida terus menyemangati perempuan" indonesia untuk maju dan berkarya

    BalasHapus