Pesantren Tambak Beras Itu Ternyata

Oleh: Ali Anwar Mhd

Bahrul Ulum Tambak Beras (BU TB) Jombang, adalah salah satu pesantren impian tempat belajar bagi para pelajar-santri.

Termasuk saya, saat itu.

Teringat menjelang lulus dari MTsN Nganjuk, tahun 1991, pikiran saya hanya tertuju ingin melanjutkan belajar ke pesantren tersebut.

Nyantri sambil sekolah di MAN TB.

Begitu tiba waktunya lulus dari MTsN, dan pamit kepada bapak untuk melanjutkan ke TB, melalui diskusi panjang, ternyata tidak diizinkan.

Dengan berbagai argumen, antara lain karena faktor biaya.

BU TB saat itu dikenal mahal. Iya, mahal.

Bapak saya mengetahui pembiayaan mahal, dari temannya yang anaknya terlebih dahulu belajar di sana.

Mahal untuk ukuran orang kampung yang berprofesi sebagai seorang petani.

Mungkin berbeda bagi orang tua yang memiliki profesi sebagai anggota dewan.

Akhirnya, MAN dan pesantren Nglawak Kertosono Nganjuk yang menjadi pilihan hasil kompromi.

Saya jalani hingga lulus tahun 1994.

Tentang BU TB saat itu tidak bisa terlupakan begitu saja, masih sering terngiang saat awal menjalani belajar di MAN dan pesantren Nglawak Kertosono.

Namun lama kelamaan lupa juga.

Cerita tentang BU TB, walaupun akhirnya terlupakan, ternyata saat ini muncul kembali. Tentu mengingatkan masa itu.

Menjelang tahun pelajaran baru ini, anak saya yang besar ingin sekolah dan nyantri di sana.

BU TB menjadi tujuan anak saya setelah menyelesaikan studi di MTsN yang lulus tahun ini.

Setelah menjalani proses panjang via online, karena kondisi pandemi, baik pendaftaran di pesantren maupun sekolah, alhamdulillah diterima.

Tes via online. Pengumuman juga via online. Semua proses via online.

Bahkan Alhamdulillah setelah dinyatakan lulus, baik sekolah maupun pesantren, langsung mengikuti matsama (orientasi) yang dilaksanakan selama satu minggu juga via online.

Begitu selesai dilanjutkan  dengan pembelajaran aktif via daring.

Sudah terlaksana hampir dua minggu sampai hari ini. Dan rencana berangkat ke pesantren sesuai jadwal dirancang awal Agustus.

BU TB menjadi cerita lagi bagi saya. Ternyata keinginan saya yang dahulu tidak tersampai, anak saya yang besar yang akhirnya menjadi santri di sana.

Saya sesungguhnya sudah memberikan kebebasan kepada anak saya untuk memilih tempat belajar.

Baik di dalam maupun di luar kota.

Baik di madrasah (agama) atau sekolah (umum),

Yang terpenting di lingkungan pesantren.

Pernah saya ajak melihat secara langsung MAN 2 Kediri, MAN Denanyar Jombang.

Melalui Web melihat Darul Ulum Jombang, MAN Nglawak Kertosono, beberapa SMA dll.

Namun pilihannya tetap mantab di BU TB Jombang.

Pilihan jatuh ke BU TB dengan memberikan berbagai argumentasi.

Beberapa informasi tentang BU TB disampaikan detail.

Saya pun langsung mensetujui karena dahulu pernah menjadi pesantren dan sekolah impian saya.

Saya sejak dahulu berkeyakinan, jika mencari ilmu (belajar,) di lingkungan pesantren lebih "afdhol/utama" dibanding dengan belajar di luar lingkungan pesantren.

Itu keyakinan saya. Entah keyakinan panjenengan semua. Pasti tidak sama.

Apalagi pesantren yang terhubung langsung dengan para pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Kepercayaan di NU (saya orang NU), saat belajar di samping ilmu kasat mata yang dicari adalah nilai keberkahan ilmu para ulama.

Sanad keilmuan para ulama tersambung sampai dengan para pengikut-sahabat-kanjeng Nabi.

Raihan kehidupan berjangka panjang yang harus dicari

Prinsip sukses dan berhasil dalam kehidupan jangka pendek harus diraih.

Tapi sukses dan selamat dalam jangka panjang adalah lebih penting dan harus lebih diraih.

Jangka panjang itu adalah kehidupan akhirat.

Yang menuntun kehidupan akhirat adalah para kiai pesantren.

Urusan dunia sangat penting dan harus sukses.

Namun urusan akhirat harus lebih penting dan harus lebih sukses.

Keduanya terkait dan kesinambungan.

Ikhtiar apapun harus kita "ijtihadi" secara maksimal, sampai titik puncak. Selebihnya kita pasrahkan dan "tawakkalkan" kepada Gusti Allah.

Mencarikan pendidikan bagi generasi harus yang terbaik dan berjangka panjang, serta setinggi-tingginya.

Untuk nasib dan kehidupan kita pasrahkan sesuai catatan yang sudah ada.

Akan menjadi seperti apa masa depan generasi kita. Yang penting sudah kita antar dengan ikhtiar maksimal.

Saya pun meyakini jika belajar di lingkungan pesantren masih dan selalu ada yang "mentirakati" dan mendoakan. Di samping orang tua adalah para guru dan kiai pengasuh pesantren.

Tirakat dan doa adalah wasilah menuju kebaikan, keselamatan, dan keberkahan hidup, baik berjangka pendek maupun berjangka panjang.

Semoga semua urusanmu lancar Nak. Selalu dimudahkan. Selalu mendapatkan pertolongan dengan cepat saat mendapati kesulitan sampai lulus nanti.

Allahumma krasan, nyaman, dan aman saat tiba di pesantren nanti, yang keberangkatanny terjadwal setelah Idhul Adha.

Selama belum berangkat ke pesantren, pembelajaran harus dilaksanakan secara daring.

Posting Komentar

0 Komentar