Profesor Plat Hitam

 Profesor Plat Hitam

Oleh: Ali Anwar Mhd 

Kamis, 9 Januari 2025


Iya, profesor plat hitam saya menyebutnya. 

Profesor plat hitam itu adalah, seorang dosen yang bisa mencapai titik puncak karir akademik tertinggi, namun dia berangkat dari perguruan tinggi swasta.

Sedang seorang dosen yang bisa mencapai titik karir akademik tertinggi di perguruan tinggi negeri, saya menyebutnya adalah profesor plat merah.

Plat hitam itu berdiri secara mandiri, tidak ada fasilitas lebih, ibarat mobil ya milik sendiri, berjalan ya beli BBM sendiri, disopir sendiri, jika mengajak sopir yang bayar sendiri, rewel yang dibenahi pakai ongkos sendiri.

Berbeda dengan plat merah. Banyak fasilitas yang bisa membantu diri seseorang untuk mencapai  titik karir tertinggi. Ibarat mobil sudah tersedia BBM, tersedia sopir, jika rewel ada fasilitas ongkos untuk membenahi.

Tentu bagi orang yang berada di perguruan tinggi swasta lebih banyak mengiyakannya, sedang yang berada di perguruan tinggi negeri ada yang meng-iya-kan dan mungkin juga ada yang tidak meng-iya-kan.

Jika iya, dipastikan lebih mengalami kesulitan bagi seorang dosen untuk mencapai titik gelar tertinggi yang berada di kampus swasta dibanding di kampus negeri. Yang semua tertumpu pada diri seorang dosen tersebut.

Prof. Dr. Hj. Sri Minarti, M.Pd.I adalah dosen universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro, yang kemarin (Rabu 8 Januari 2025) dikukuhkan menjadi guru besar pertama di UNUGIRI. 

Saya hadir dan menyaksikan.

Saya diundang karena kolega satu angkatan namun beda kelas saat kuliah program doktoral di UIN Maliki Malang. 

Dia lulus lebih cepat dibanding saya. 

Dia lulus tepat waktu, ditempuh 4 tahun, sedang saya menempuh untuk menyelesaikannya membutuhkan waktu 7 tahun. Hampir kena DO.

Bu Prof. Min saya memanggilnya setelah menyandang gelar guru besar ini. Dia adalah seorang dosen yang bisa mencapai titik karir tertinggi di kampus swasta. Kampus dibawah naungan Nahdlatul Ulama. 

Bu Prof Min, selama berproses untuk mencapai titik karir tertinggi akademis berjalan secara mandiri. 

Dengan tekun dan tlaten komunikasi, belajar (perjalanan karir) kepada para guru-guru-nya. Kesana kemari ya biaya sendiri. Kadang naik bus, kadang naik kereta. Semua berbiaya mandiri. 

Berkat ketlatenan dan ketekunan yang dijalani, dengan kuatnya tekat bersungguh-sungguh untuk mencapai gelar tertinggi, akhirnya terwujud. Walaupun dengan pola dan cara mandiri tanpa fasilitas lebih dari kampus tempat berdedikasi.

Keberhasilan seorang Bu Prof. Min tentu menjadi inspirasi bagi saya dan mungkin kita semua. 

Inilah keberhasilan yang saya sebut sebagai profesor plat hitam.

Posting Komentar

0 Komentar