Tamu, Silaturahim, dan Pesanten Miftahul Ula

Oleh: Ali Anwar Mhd


Hari Sabtu di Minggu kemarin (25/7), saya mengantar tamu dari Madiun (Kebonsari) ke daerah lereng gunung Wilis. Sekitar 25 km arah barat laut dari jarak kota Nganjuk.

Tamu tersebut adalah teman perempuan saya waktu kuliah strata satu (STAIN-TA). Lama sekali tidak bertemu. Dia minta untuk diantar ke teman satu kos saat kuliah dulu. Semua kakak tingkat yang menjadi tujuan yang tinggal di daerah wilangan Nganjuk.

Dia berkunjung bersama keluarganya. Ketiga anaknya juga ikut. Tentu (kemarin) hari yang membahagiakan bagi saya. Bisa mempertemukan para orang-orang yang sudah lama sekali tidak berjumpa yang pernah tinggal satu kos-an.

Sesungguhnya tanpa saya pun mereka bisa berjumpa. Karena dua hari sebelumnya, teman saya memberi kabar atas keinginannya untuk bersilaturahim. Tapi dia lupa di mana tempat tinggal (jalur untuk menuju rumah) teman satu kos tersebut. Pernah sekali saat itu bermain ke sana. Saya pun menawarinya untuk mengantar menfasilitasi sekaligus juga ingin bertemu dan bersilaturahmi kepada mereka semua.

Saat berjumpa, tidak bisa ditutupi wajah-wajah mereka yang saling memancarkan kebahagiaan, setelah puluhan tahun tidak bertemu. Mereka saling bernostalgia masa lalu. Banyak hal "lakon' yang sudah terpendam lama menjadi cerita baru yang indah. Siapapun yang mendengarnya akan lahir semangat untuk ikut bercerita "lakon" yang dulu pernah dijalani bersama.

Seneng dan seneng dihari Sabtu di Minggu itu yang saya rasakan. Bisa mengantar sekaligus juga bisa ikut bersilaturahim. Dan bisa ikut nimbrung dengan mereka.


Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 17.00 WIB. Maka berakhirlah sua pertemuan silaturahim teman dan tamu yang saya antar. Saya pun berganti acara. Menyambangi teman karib yang rumahnya juga di bawah kaki gunung Wilis.

Sudah lama sebenarnya saya diminta untuk silaturahim di tempatnya. Namun belum bisa. Baru Sabtu di Minggu kemarin saya tekatkan untuk bisa mendatangi tempatnya. Kebetulan lokasi berdekatan dengan rumah yang dituju oleh tamu saya. Bahkan saat diundang peresmian Pesantren barunya, saya juga pas tidak bisa hadir.

Kang Roqib saya biasa memanggilnya. Iya Kang Abdul Roqib adalah warga Sudimoroharjo kecamatan Wilangan. Yang sekitar beberapa tahun terakhir menginisiasi pendirian pesantren. Yang beberapa bulan yang lalu baru diresmikan.


Pendirian pesantren tersebut dilatarbelakangi setelah melihat kondisi di desanya yang dalam sejarah belum pernah ada pondok pesantren. Adanya TPQ atau Madin kampung. Bahkan satu kecamatan hanya ada satu pondok pesantren.

Wilangan adalah kecamatan yang terletak di ujung paling barat kabupaten Nganjuk. Perbatasan dengan kabupaten Madiun. Yang memiliki 6 desa dan puluhan dusun.

Menurut Kang Roqib, bahwa di kecamatan Wilangan ada makam Syekh Suluki. Yang berdasarkan catatan sejarah adalah beliau berproses perjalanan dalam rangka penyebaran Islam di Mataram. Artinya proses perjalanan dan pengembangan Islam harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya termasuk Kang Rokip sendiri. Terutama di Wilangan yang terletak di kaki gunung Wilis. Hal inilah yang melahirkan tekat kuat Kang Roqib untuk mendirikan pondok pesantren.

Masih menurut Kang Roqib, jika mengacu pada wilayah selatan kecamatan wilangan, daerah kaki lereng wilis, adalah kecamatan Sawahan. Di sana ada Syekh Ki Ageng Ngaliman. Juga penyebar agama Islam. Artinya di Kecamatan Wilangan dari desa yang di tempat tinggali Kang Roqib yang juga tidak jauh dari Sawahan harus berdiri pesantren untuk terus mengembangkan dan mensyiarkan Islam.

Tekat kuat lain kang Roqib untuk mendirikan pesantren, di samping memiliki motivasi untuk meneruskan perjuangan syiar agama yang telah dilalui oleh generasi terdahulu, karena ingin menjadikan pesantren sebagai tempat mengamalkan ilmu yang telah didapat selama belajar di pesantren dan di lembaga pendidikannya lain.

Kang Roqib muda pernah nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin Krempyang Tanjungamom Nganjuk. Juga pernah mengenyam pendidikan di STAI Miftahul Ula Nglawak Kertosono. Disamping belajar (ngaji dan sekolah) di kampung halaman di masa kecil.

Pesantren yang didirikan diberi nama Pondok Pesantren Miftahul Ula adalah bukan hanya tafa'ulan dari Miftahul Ula Nglawak. Tapi juga dari Pondok Pesantren Miftahul Mubtadiin Krempyang Tanjungamom Nganjuk.


Nama Miftahul Ula adalah gabungan dari kedua pesantren tersebut. Miftahul mengambil dari pesantren Krempyang, Ula mengambil dari Pesantren Nglawak. Maka menjadi Miftahul Ula. Dan Nama tersebut pemberian dari pengasuh pondok Krempyang. Mbah KH Ridwan Syaibani. Guru atau Kiai dari Kang Roqib saat belajar di Pesantren.

Pesantren asuhan Kang Roqib masih berusia belia. Santri yang mengaji masih puluhan atau mendekati ratusan. Teknik atau pembelajarannya dimulai dengan berjamaah Isya' dan berlanjut belajar sampai malam hari. Usai belajar para santri tidur di pondok. Dan paginya pulang untuk menjalankan sekolah formal di luar.

Mengapa dimulai setelah isya'? supaya tidak mengganggu Madin yang sudah ada di kampung di sekitar pesantren. Pesantren Kang Roqib untuk mewadahi santri sekitar dengan cara mengaji dan memberi berbagai skill lain. Seperti diberi bekal kesenian rebana, qiro'ah dan bentuk kegiatan lain.

Yang menjadi catatan saya adalah semangat Kang Roqib mendirikan pesantren dalam rangka mengaktualisasikan (sebagai wujud ilmu bermanfaaat) dari ilmu yang telah diperolehnya selama mengembara tholabul ilmi, dan meneruskan perjalanan syiar ajaran Islam yang telah dilaksanakan oleh para orang-orang terdahulu.

Walaupun pesantren masih bersifat sederhana dan apa adanya, karena keadaan yang masih terbatas, tapi itu adalah karya nyata Kang Roqib (mendirikan pesantren) dari hasil renungan perjalanan panjang hidupnya.

"Apapun bentuknya, orang yang paling baik dan sebagai wujud  ilmu bermanfaat adalah orang yang terus berkarya, dan memiliki karya nyata dalam hidupnya. Karya apapun yang penting memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan". Lontaran kata terakhir saya saat mengakhiri obrolan sebelum saya berpamitan pulang. Karena malam yang mulai tiba.

Jika karya Kang Roqib adalah mendirikan pesantren. Apa karya kita? Mari segera kita lahirkan karya-karya nyata dalam kehidupan seperti Kang Rokip teman/sahabat saya.

Posting Komentar

0 Komentar