Khutbah Jumat

                            MERAWAT AMALAN BULAN RAMADAN



Oleh: M. Ali Anwar

الحَمْدُ للهِ، الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِحْسَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، خَالِقُ اللَّيَالِيْ وَالأَيَّامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا محمَّدٍ سَيِّدُ العَرَبِ وَالعَجَمِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامِ. أمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قال الله تعالى فى كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ، الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Mari, kita bersama-sama, senantiasa selalu bertaqwa kepada Allah SWT. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya. Perintah Allah jika dijalankan pasti melahirkan kemaslahatan (kebaikan). Larangan Allah jika dilanggar pasti melahirkan kemadlaratan (kerusakan). Jalan taqwa adalah jalan yang benar dan lurus. Maka, taqwalah yang senantiasa harus kita pegang dengan sepenuh hati dalam menjalani hidup ini.

Hadirin sidang Jumat yang dirohmati Allah SWT.

Ramadan telah selesei kita jalankan bersama. Datangnya gema takbir hari raya idul fitri di bulan syawal kemarin, menandakan usainya pelaksanaan perintah puasa ramadan. Secara dhahir dan kasat mata kita semua telah lulus. Iya, kita semua telah lulus. Karena kita semua telah mampu menjalankan selama satu bulan penuh. Telah mampu menahan makan dan minum di siang hari, dan menjauhi apa yang bisa membatalkan puasa Ramadan. Namun secara subtansi/isi/secara hakekat, kita semua belum tahu, hanya Allah SWT yang mengetahui-Nya. Mudah-mudahan, juga bisa lulus puasa ramadhan yang telah kita jalankan bersama. Diterima sebagai amal ibadah yang kelak bisa dijadikan bekal dihari akhir. Aamin 3x YRA.

Hadirin sidang Jumat yang dirohmati Allah SWT.

Setelah selesai menjalankan puasa ramadan, bukan berarti tidak ada kelanjutannya. Bulan Ramadan adalah bulan pendidikan atau bulan “kawah condrodimuko” bagi umat Islam. Untuk itu, kita semua harus mengambil pelajaran atau inti hikmah perintah puasa ramadhan. Dengan hikmah tersebut, diharapkan memberikan efek besar dalam kehidupan kita yang lebih baik dan lebih bermakna. Tujuan puasa sebagaimana dalam QS Al-Baqoroh 183.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Supaya hidup kita selalu dalam koridor (bingkai) tujuan berpuasa sebagaimana ayat tersebut,  maka kita harus merawat dan menjaga kandungan pelajaran yang telah kita laksanakan bersama selama bulan Ramadan. Ada dua kandungan pelajaran yang harus kita rawat bersama setelah bulan ramadan, yaitu amalan spiritual dan amalan social.

Merawat amalan spiritual:

1.   Pengendalian diri.

Selama melaksanakan puasa ramadhan, kita dididik untuk mengendalikan diri yang melahirkan ketaatan dan kedisiplinan. Sebelum waktunya berbuka, kita tidak akan berbuka. Pada siang hari, dengan taat menahan lapar dan haus walaupun didekatnya ada makanan dan minuman. Selama seharian penuh, mampu mengendalikan diri terhadap hal yang dilarang. Hal demikian adalah control atau pengendalian diri yang harus terus kita jalankan di sebelas bulan berikutnya. Pasca puasa, kita harus membiasakan diri dari hasil latihan selama satu bulan penuh untuk menahan diri dari keinginan atau sesuatu yang bisa membatalkan puasa. Kemampuan menahan diri harus ditranspormasikan terhadap apa saja yang oleh ajaran Islam dilarang untuk dijalankan. Semua larangan Allah SWT kita tahan diri kita untuk tidak mengerjakannya sebagaimana menahan diri saat berpuasa.    

2.   Memperbayak sholat sunnah

Selama ramadan, kita telah mampu dan dengan ringan menjalankan sholat-shalat sunnah untuk memperbayak amal dan menyempurnakan shalat wajib. Ibadah yang sudah dilatihkan selama bulan ramadhan seperti salat tarwih, maka spirit untuk melaksanakan sholat sunnah tersebut harus dirawat dan dijaga dengan tetap melaksanakan shalat-shalat sunah seperti sholat dhuha, shalat tahajud, tasbih, hajad, shalat setelah dan sebelum shalat wajib. Semangat ibadah shalat sunahnya harus tetap dijaga. Jika bulan ramadhan kita bisa menjalankan dengan ringan dan semangat pergi ke masjid. Maka di luar bulan ramadhan harus semangat seperti melaksanakan ibadah pada saat bulan Ramadan.

3.   Tadarus Al-Qur’an

Tadarus Al-Qur’an kita laksanakan baik secara kolektif (bersama) atau ndividu, dan banyak yang khatam berkali-kali. Dimusim pandemic saat puasa, tidak sedikit yang menyelenggarakan khotmil qur’an melalui group -

WA dan sebagainya. Tradisi seperti ini harus dilanggengkan saat di luar bulan ramadan. Semangat belajar atau mengkhatamkan al-Quran harus tetap dijaga. Jika tidak bisa khatam satu bulan sekali, bisa dua bulan sekali. Jika tidak khatam tiga bulan sekali bisa empat bulan dan seterusnya. Yang terpenting bagaimana semangat belajar dan membaca serta mengkhatamkan al-Qur’an tetap terjaga dan terawat. 

Merawat amalan dan kepedulian social:

1.   Amal sholeh atau shodaqoh

   Selama bulan ramadhan, dengan kesadaran hati dan kerelaan, serta keikhlasan, banyak yang telah melaksanakan amal sholeh atau shodaqoh. Memberi ta’jil baik di masjid-masjid, mushalla-mushalla, bahkan di jalan-jalan kepada orang yang berpuasa. Hal demikian tanpa diminta dan sudah mentradisi di bulan ramadhan. Maka tradisi ini (amal sholeh dan sedakah), harus dirawat di sebelas bulan berikutnya. Apalagi dalam ajaran Islam disebutkan  Asshadaqotu li daf'il bala'i. Shodaqoh dapat menolak bencana). Bencana yang akan menimpa kehidupan kita, bisa di tolak dengan amalan shodaqoh. Mengapa orang-orang dahulu sering sedekah setiap panen, setiap mendapat rizqi, disamping menjadi amal sholeh juga dapat menjadi perisai diri keluarga dan lingkungannya dari bencana.

2.   Kepedulian sosial melalui zakat

Di akhir ramadhan, mulai petang sampai malam hari, bahkan banyak yang jauh hari sebelumnya, menjalankan perintah untuk melaksanakan zakat. Baik zakat mal maupun zakat fitrah. Hal tersebut bertujuan untuk meringankan beban saudara atau kerabat dekat yang hidupnya kekurangan. Kepedulian ini dibangun atas dasar perintah agama dan kemanusian, dengan momentum bulan ramadhan. Pelajaran kepedulian ini tidak boleh berhenti pada saat bulan ramadan saja, tapi bentuk subtansi (nilai) kepedulian harus dijalankan di sebelas bulan yang lain. Sebagaimana amal sholeh dan shodaqoh.

 إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Quran Surat At-Taubah Ayat 60).

3.   Saling minta maaf dan memberi maaf saat tiba idul fitri

Perintah bulan ramadhan setelah selesai dilaksanakan, maka umat muslim diajarkan untuk saling bersilaturohim dengan meminta dan memberi maaf di momentum yang disebut hari raya. Antar orang satu dengan orang lain untuk saling meminta dan memberi maaf. Siapapun dengan rela hati dan ikhlas melakukan hal yang sama saat bertemu. Hal demikian bagaimana bisa dirawat di sebelas bulan lainnya. Saat melakukan kesalahan tidak boleh menjaga ego demi harga diri. Di akhir ramadan dan awal syawal telah diajarkan untuk saling meminta dan memberi maaf.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata:

يَا رَسُول اللَّه، إِنَّ لِي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِم وَيُسِيئُونَ إِليَّ، وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيَجْهَلُونَ علَيَّ، فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ، وَلا يَزَالُ معكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلكَ

“Wahai Rasulullah, sama memiliki kerabat, saya sambung tapi mereka malah meutuskan, mereka berbuat buruk kepada saya tapi saya berusaha untuk berbuat baik kepada mereka. Mereka berbuat jahil kepada saya tapi saya sabar tidak ingin membalas dengan yang sama. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘jika yang kamu katakan itu benar, maka seakan-akan kamu menaburkan debu panas ke wajahnya dan senantiasa Allah akan menolong kamu selama kamu terus berbuat seperti itu'” (HR. Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم. وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) ـ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ ـ


 

Posting Komentar

1 Komentar