Oleh: Ali Anwar Mhd
Hari ini ulang tahun saya.
Semua data administrasi yang saya miliki menrcatat tanggal 10 Juli 1975 adalah kelahiran saya.
Tepat 45 tahun silam saya dilahirkan.
Bertambah usia pasti. Dihitung secara jumlah angka bertambah.
Sesungguhnya berkurang iya. Karena mengurangi dari jumlah jatah yang tercatat di lauhul Mahfudz.
Sampai usia berapa? Pasti tidak ada yang tahu. Hanya Gusti Allah yang tahu. Kita tidak ingat saat masih dalam kandungan sudah dibisikkan baik umur, calon istri, dan calon jumlah rizki.
Seandainya batas usia kita tahu bisa saja hidup dengan cara jika sudah mendekati ajal kita dijemput baru bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan berbuat sebaik-baiknya, sehingga bisa husnul khatimah.
Karena tidak ada yang tahu, maka kita diminta untuk selalu beramal dan berposisi dalam kebaikan setiap saat dan setiap waktu, dan selalu berdoa jika meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Kembali ke ulang tahun.
Tidak terasa usia saya sudah paro baya. Saya merasa belum memiliki banyak amal kebaikan. Kesalahan pasti.
Saya pun lebih sering dalam hidup pokoknya berjalan. Berusaha berjalan di jalan kebaikan. Jarang sekali mengecek atau melihat ulang setelah perjalanan (bergiat apa saja). Begitu menjalankan yang menurut saya baik, ya sudah. Kita jarang berpikir atau mengingat-ingat ulang.
Hidup itu ya demikian menurut saya. Pokok berjalan. Berjalan di atas jalan kebaikan. Salah ya lumprah yang penting tidak disengaja.
Tidak perlu berpikir aneh-aneh. Apalagi bingung karepe dewe. Soal bagaimana mendapatkan rizki apalagi ingin mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
Semua orang sudah memiliki jatah. Seberapa banyak hartamu. Siapa jodohmu. Kapan meninggalmu. Semua sudah dicatat dengan catatan rapi sekali.
Tugas kita hanya ikhtiar mengerjakan apa yang ada di depan mata atau yang menjadi tugas (amanah) kita dengan sebaik dan semaksimal mungkin.
Bagaimana hasilnya kita pasrahkan (tawakalkan) kepada Gusti Allah.
Hidup itu ya ikhtiar maksimal dan dijalankan dengan sebaik mungkin. Tapi ya harus kita pasrahkan. Itu metode hidup ala ahlusunah wal jamaah an Nahdliyah. Pola tawasut (jalan tengah) yang kita tempuh jika ingin hidup tenang dan lancar.
Apapun yang sudah diberikan kita terima dengan disyukuri. Istri cantik atau kurang cantik wajah. Baik atau kurang baik akhlaq. Yang ada harus diterima kita syukuri. Itu sudah pasti yang terbaik untuk kita. Jodoh itu sekufu (sama). Pasti tidak salah.
Diberi amanah anak laki-laki perempuan sama saja. Jika laki-laki toh nanti menantunya perempuan. jika anaknya perempuan nanti toh menantunya laki.
Diberi harta tidak banyak ya disyukuri. Banyak ya disyukuri. Toh semua titipan. Titipan pasti akan diambil, dan ada pertangungjawabannya.
Hidup itu ya biasa saja. Tidak harus ngoyo melebihi dosis cara hidup. Tidak usah sampai susah. Semua dinikmati.
Iya. Usia saya sudah 45 tahun. Tentu masih banyak hal yang kurang. Dan hal yang belum saya capai.
Ada teman seusia saya, bahkan lebih tua saya, yang sudah menjadi guru besar. Ada yang sudah sampai tahapan mengamalkan laku semakin menunduk, sebab ilmu yang dimiliki.
Bahkan adik kelas saya jauh, sudah melanglang buana berkegiatan antar negara. Bertukar ilmu, berkontribusi atas kekayaan akal (ilmu) yang dimiliki. Berkali-kali beribadah ke haromain. Saya sudah tertinggal jauh.
Tapi tidak apa. Semua memiliki taqdir perjalanan hidup yang tidak sama.
Ada yang sudah memimpin pesantren. Memiliki banyak santri. Ada yang sudah menduduki jabatan tinggi sebagai birokrat maupun politisi. Ada yang sudah menjadi pengusaha kaya raya. Tentu saya juga tertinggal jauh.
Usia saya sudah 45 tahun. Jika dinisbatkan usia kanjeng Nabi yang 63 tahun, pembaca catatan saya pasti bisa menghitung.
Jika dinisbatkan pensiun seorang guru besar yang 70 tahun. Pembaca bisa menghitung sendiri. Jika terlalu sepuh hingga usia 100 tahun, infonya banyak hal yang tidak enak untuk dirasakan.
Mbah Perempuan saya sampai sekarang masih ada. Perkiraan usia sekitar 80 tahunan.
Mohon doa nya ya kepada semuanya. Semoga keluarga besar dan keluarga kecil saya, terutama saya selalu sehat, panjang umur, umur yang bermanfaat dan berkah, selamat fi daroini, cukup semua kebutuhan, diberi keturunan yang baik-baik, jika meninggal dalam keadaan Husnul khatimah.
Aamiin 3x YRA.
Terimakasih kepada semuanya, terutama kepada orang-orang yang telah membimbing saya dan mendampingi saya. Guru-guru saya. Semoga menjadi amal kebaikan yang dicatat sebagai tabungan diakhirat kelak.
Salam semangat terus untuk berkarya. Semakin tua, semangat harus tetap seperti anak muda.
Semua data administrasi yang saya miliki menrcatat tanggal 10 Juli 1975 adalah kelahiran saya.
Tepat 45 tahun silam saya dilahirkan.
Bertambah usia pasti. Dihitung secara jumlah angka bertambah.
Sesungguhnya berkurang iya. Karena mengurangi dari jumlah jatah yang tercatat di lauhul Mahfudz.
Sampai usia berapa? Pasti tidak ada yang tahu. Hanya Gusti Allah yang tahu. Kita tidak ingat saat masih dalam kandungan sudah dibisikkan baik umur, calon istri, dan calon jumlah rizki.
Seandainya batas usia kita tahu bisa saja hidup dengan cara jika sudah mendekati ajal kita dijemput baru bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan berbuat sebaik-baiknya, sehingga bisa husnul khatimah.
Karena tidak ada yang tahu, maka kita diminta untuk selalu beramal dan berposisi dalam kebaikan setiap saat dan setiap waktu, dan selalu berdoa jika meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Kembali ke ulang tahun.
Tidak terasa usia saya sudah paro baya. Saya merasa belum memiliki banyak amal kebaikan. Kesalahan pasti.
Saya pun lebih sering dalam hidup pokoknya berjalan. Berusaha berjalan di jalan kebaikan. Jarang sekali mengecek atau melihat ulang setelah perjalanan (bergiat apa saja). Begitu menjalankan yang menurut saya baik, ya sudah. Kita jarang berpikir atau mengingat-ingat ulang.
Hidup itu ya demikian menurut saya. Pokok berjalan. Berjalan di atas jalan kebaikan. Salah ya lumprah yang penting tidak disengaja.
Tidak perlu berpikir aneh-aneh. Apalagi bingung karepe dewe. Soal bagaimana mendapatkan rizki apalagi ingin mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.
Semua orang sudah memiliki jatah. Seberapa banyak hartamu. Siapa jodohmu. Kapan meninggalmu. Semua sudah dicatat dengan catatan rapi sekali.
Tugas kita hanya ikhtiar mengerjakan apa yang ada di depan mata atau yang menjadi tugas (amanah) kita dengan sebaik dan semaksimal mungkin.
Bagaimana hasilnya kita pasrahkan (tawakalkan) kepada Gusti Allah.
Hidup itu ya ikhtiar maksimal dan dijalankan dengan sebaik mungkin. Tapi ya harus kita pasrahkan. Itu metode hidup ala ahlusunah wal jamaah an Nahdliyah. Pola tawasut (jalan tengah) yang kita tempuh jika ingin hidup tenang dan lancar.
Apapun yang sudah diberikan kita terima dengan disyukuri. Istri cantik atau kurang cantik wajah. Baik atau kurang baik akhlaq. Yang ada harus diterima kita syukuri. Itu sudah pasti yang terbaik untuk kita. Jodoh itu sekufu (sama). Pasti tidak salah.
Diberi amanah anak laki-laki perempuan sama saja. Jika laki-laki toh nanti menantunya perempuan. jika anaknya perempuan nanti toh menantunya laki.
Diberi harta tidak banyak ya disyukuri. Banyak ya disyukuri. Toh semua titipan. Titipan pasti akan diambil, dan ada pertangungjawabannya.
Hidup itu ya biasa saja. Tidak harus ngoyo melebihi dosis cara hidup. Tidak usah sampai susah. Semua dinikmati.
Iya. Usia saya sudah 45 tahun. Tentu masih banyak hal yang kurang. Dan hal yang belum saya capai.
Ada teman seusia saya, bahkan lebih tua saya, yang sudah menjadi guru besar. Ada yang sudah sampai tahapan mengamalkan laku semakin menunduk, sebab ilmu yang dimiliki.
Bahkan adik kelas saya jauh, sudah melanglang buana berkegiatan antar negara. Bertukar ilmu, berkontribusi atas kekayaan akal (ilmu) yang dimiliki. Berkali-kali beribadah ke haromain. Saya sudah tertinggal jauh.
Tapi tidak apa. Semua memiliki taqdir perjalanan hidup yang tidak sama.
Ada yang sudah memimpin pesantren. Memiliki banyak santri. Ada yang sudah menduduki jabatan tinggi sebagai birokrat maupun politisi. Ada yang sudah menjadi pengusaha kaya raya. Tentu saya juga tertinggal jauh.
Usia saya sudah 45 tahun. Jika dinisbatkan usia kanjeng Nabi yang 63 tahun, pembaca catatan saya pasti bisa menghitung.
Jika dinisbatkan pensiun seorang guru besar yang 70 tahun. Pembaca bisa menghitung sendiri. Jika terlalu sepuh hingga usia 100 tahun, infonya banyak hal yang tidak enak untuk dirasakan.
Mbah Perempuan saya sampai sekarang masih ada. Perkiraan usia sekitar 80 tahunan.
Mohon doa nya ya kepada semuanya. Semoga keluarga besar dan keluarga kecil saya, terutama saya selalu sehat, panjang umur, umur yang bermanfaat dan berkah, selamat fi daroini, cukup semua kebutuhan, diberi keturunan yang baik-baik, jika meninggal dalam keadaan Husnul khatimah.
Aamiin 3x YRA.
Terimakasih kepada semuanya, terutama kepada orang-orang yang telah membimbing saya dan mendampingi saya. Guru-guru saya. Semoga menjadi amal kebaikan yang dicatat sebagai tabungan diakhirat kelak.
Salam semangat terus untuk berkarya. Semakin tua, semangat harus tetap seperti anak muda.

0 Komentar