Program BTQ Mas Bupati Nganjuk

Oleh; Ali Anwar Mhd

Ada tiga program prioritas pembangunan yang dijalankan Mas Bupati Nganjuk. Mas Novi. Yang disebut dengan Tri Cita Bhakti. Yaitu membangun Inprastruktur dan fasilitas umum, SDM unggul dan berkualitas, dan kemandirian ekonomi.

Ikhtiar Mas Bupati, untuk membangun Inprastruktur dan fasilitas umum dengan mengajukan lima mega proyek besar ke pusat.

Dalam satu kesempatan, dalam pidatonya menyampaikan, dari lima mega proyek yang diajukan, yang disetujui oleh pemerintah pusat empat mega proyek senilai sekitar 14 triliun untuk kabupaten Nganjuk.

Untuk pengembangan SDM unggul dan berkualitas, memberikan keseimbangan antara pembangunan rasio (akal), ketrampilan (skill), dan spiritual, terutama kepada generasi muda sejak dini (anak).  

Program pengembangan SDM unggul dan berkualitas antara lain, melahirkan program pemberantasan buta huruf Al-Qur'an melalui Baca Tulis Al-Qur'an (BTQ).

Sedang program kemandirian ekonomi melahirkan ikhtiar program pengangkatan produk-produk lokal yang bisa melahirkan penguatan kemandirian ekonomi masyarakat.

BTQ yang saya tahu sesungguhnya program yang sudah ada pada masa Bupati sebelum Mas Novi. Bahkan masa sebelumnya lagi.

Namun BTQ di masa Mas Bupati ini, menjadi prioritas program yang menjadi salah satu visi misi dalam pembangunan dan pengembangan serta penguatan SDM warga Nganjuk.

Mas Bupati menginginkan (masih dalam suatu kesempatan pidato), melahirkan generasi unggul, bukan hanya mampu dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga memiliki spiritual yang tinggi.

Jika spiritus tinggi akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki akhlaqul karimah, moralitas tinggi, kebaikan budi pakerti dalam menjalani hidup.

Dengan demikian, supaya menjadi warga yang dalam hidupnya sebagai seorang muslim yang mencintai Islam dan mencintai Indonesia. Sehingga menjadi warga muslim yang menebarkan Rahmatan Lil Alaminin di lingkungan sekitarnya. Bukan malah menjadi warga muslim yang merongrong negaranya sendiri.
Di samping BTQ, yang menjadi program prioritas Mas Bupati, ada program 2 hafidz/Hafidzoh setiap desa. Yang dalam pelaksanaannya pembiayaan dibantu dari anggaran dana desa.
 

Program BTQ yang menjadi subyek adalah para siswa SDN dan SMPN di kabupaten Nganjuk. Sebagaimana target dari Mas Bupati, anak yang lulus SDN dan SMPN harus bisa membaca Al-Qur'an dengan baik.
Dalam pelaksanaan program BTQ, saya menjadi salah satu yang menjalankan program tersebut. Terfokus untuk tingkat SDN bersama 9 orang.
Dalam menjalankan tugas, bersama TIM yang berlatar belakang praktisi, akademisi, dan komponen lain, dimulai dengan membuat konsep implementasi untuk mencapai target. Targetnya anak bisa membaca dan menulis Al-Qur'an.

Ada dua konsep yang harus kita produk. Pertama teknis implemtasi operatif yang disebut juklak teknis (juknis). Kedua struktur kurikulum dalam implementasi.
Teknis implementasi terdiri dari landasan hukum/dasar pelaksanaan, terknis pelaksanaan di Lapangan, keterlibatan komponen, bentuk kerjasama, pembiayaan, model-model pelaksanaan. Seperti kemandirian kegiatan, bentuk intra atau ekstra, kerjasama dengan TPQ atau Madin sekitar, dan pengaturan lainnya yang bisa dikreasi, dan bahkan masih kita beri ruang-ruang kreasi pilihan model dan pengembangan.
Sedangkan konsep struktur kurikulum untuk siswa SDN adalah ada empat jenis target. Membaca, menulis, pembiasaan menghafal, dan pendalaman ilmu tajwid praktis. Ilmu tajwid inklut dengan membaca dan menghafal.

Membaca dimulai dari pengenalan huruf Hijaiyah dan tanda baca terutama bagi kelas bawah. Pengajar bebas memilih metode. Dilanjut ke surat-surat pendek sampai khatam juz 30 dengan metode khatam Juz Anna atau Al-Qur'an juz 30

Sedang untuk pembiasaan menghafal dimulai surat Al-Fatihah secara urut sampai At Takatsur. Dilajut Al Qodar, Al A'la, Al Ghosiah, Ad Dhuha, Was Syamsi.

Jika pembiasaan hafalan tersebut bisa tercapai maka siswa sudah bisa menjadi imam sholat tarawih 23 rokaat, imam sholat Jumat, imam sholat Idul Fitri atau Idul Adha, dan sudah bisa shilat dhuha. Dari bacaan yang dibaca saat melaksanakan sholat, dengan bacaan afdholul qiro'ah (keutamaan sunah bacaan surat dalam sholat).

Dari struktur kurikulum tersebut adalah standar minimal. Karena kita melihat dari pemetaan daerah yang minus religius. Sedang standart maksimalnya tidak terbatas. Diserahkan guru atau pengajar untuk mengkreasi sesuai pontensi kondisi lembaga yang ada.

Jika misal di bangku SDN sudah ada yang pandai membaca dan menulis surat-surat pendek (Juz Ama), maka bisa langsung dilanjutkan ke tingkat lebih tinggi, yaitu Al-Quran. Jika sudah banyak yang khatam Al-Qur'an karena belajar di TPQ atau Madin di kampungnya, maka bisa diarahkan untuk belajar Qiro'ah (seni membaca Al-Qur'an). Jika sudah menguasai, bisa ditambah pada penguatan tarjim (terjemah) atau hafalan (tahfidz) Al-Quran secara utuh. Jika sudah menguasai qiro'ah, tarjim atau tahfidz, bisa ke arah tafsiril Qur'an (mentafsir/pemahaman).

Namun tentu bagi anak usia SDN belumlah sampai ditafsiril Qur'an, terutama anak-anak di kampung. Kecuali memang sekolah takhosus.

Hari ini, langkah dari program yang sudah dilaksanakan setelah perumusan juknis dan struktur kurikulum adalah sosialisasi kepada para guru PAI dan SMP se-kabupaten Nganjuk. Mulai Senin 20-24 September 2020 secara bergelombang. Bertempat di Aula Dinas Pendidikan, SDN Ganung 1, SDN Payaman 3 Nganjuk.

Selanjutnya para peserta sosialisasi, akan menindaklanjuti secara operatif, yang didampingi kebijakan kepala sekolah.

Jika sudah terimplementasi secara bertahap sebagaimana juknis dan struktur kurikulum, maka pada masa evaluasi akan di selenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Tilawtil Qur'an (LPTQ) kabupaten Nganjuk dan bekerjasama dengan para pendamping program. Sertifikat keberhasilan juga akan di keluarkan LPTQ tersebut.

Program ini sangat bagus, tentu dalam implementasi tidak sedikit kendala yang akan dihadapi. Namun semua harus kita respon bersama, apalagi program ini adalah instrumen (alat dukung) untuk pembangunan SDM unggul di kabupaten Nganjuk.

Secara teknis sebagaimana di juknis dijelaskan, untuk mempermudah proses jika di suatu kampung sudah ada TPQ atau Madin maka harus ada komunikasi atau mengadakan kerjasama (MOU). Jika belum ada bisa dilaksanakan secara mandiri di sekolahan dengan berbagai teknis sesuai pontensi kondisi yang ada.

Jadi keberadaan program BTQ ini, tidak akan mengganggu keberadaan TPQ/TPA atau Madin yang sudah mentradisi berjalan. Justru program jika ada kerjasama akan saling mengisi dan menguatkan. Bagi kampung yang misal belum ada TPQ akan teratasi melalui program BTQ bagi anak-anak Sekolah Dasar Negeri yang belum mampu ber-BTQ. Sehingga diharapkan Mas Bupati, semua warga Nganjuk yang beragama Islam bisa membaca Al-Quran.

Selanjutnya bisa menjadi bekal untuk mempelajarinya lebih jauh terkait Al-Qur'an untuk dijadikan pedoman dalam menjalani hidup bagi seluruh umat muslim.

Penulis adalah Koordinator TIM Perumus dan Sosialisasi Program BTQ tingkat SDN kabupaten Nganjuk.





Posting Komentar

0 Komentar